Rupiah Anjlok, Akankah Krisis 1998 Terulang
Written By Berita terkini on Kamis, 22 Agustus 2013 | 17.36
Berita rupiah yang semakin hari semakin melemah hingga mencapai 11.000 per dollar Amerika kini menjadi perhatian para pengamat ekonomi. Masyarakat berharap Presiden SBY cepat mengambil langkah guna mengantisipasi kemungkinan yang lebih buruk.

Kondisi perekonomian Indonesia saat ini disinyalir akibat adanya kebijakan dari bank sentral Amerika yang melakukan pengetatan terhadap pengeluaran obligasi besar-besaran atau quantitative easing. Pengetatan tersebut karena ekonomi AS mulai menunjukkan pemulihan dari krisis yang sempat melanda negeri tersebut sejak 2008 lalu. Hal ini berimbas kepada melemahnya perekonomian di beberapa negara seperti India, China dan Korea.
Sentimen negatif dari kondisi internal dan eksternal juga disinyalir menjadi penyebab nilai tukar mata uang Rupiah kembali tertekan terhadap dolar AS pada siang ini. Kondisi ini berpotensi menjadi pintu gerbang krisis moneter, seperti yang terjadi di Indonesia pada 1998 silam.
Menurut Presiden SBY tahun ini adalah tahun ujian yang berat bagi ekonomi nasional. Presiden juga mengakui bukan hal mudah mencapai target pertumbuhan ekonomi tahun ini yang dipatok 6,3 persen. Dia juga tidak menampik bahwa ekonomi mengalami perlambatan.
Sementara itu Analis ekonomi merekomendasikan sektor konsumer dan media massa pada para investor untuk mengalihkan penempatan dananya di tengah melemahnya nilai tukar Rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar